mashendra.com

mashendra.com

Tempat berbagi tips seputar dunia blogging, update teknologi, dan ragam cerita pengalaman menarik bersama mashendra.com.

Kenapa Saya Membuat Template Blogger Personal Flow?

5 min

Kenapa Saya Membuat Template Blogger Personal Flow

Kadang masalah terbesar blog itu bukan di Google, tapi di cara kita membangun blog itu sendiri.

Kalimat itu baru benar-benar saya pahami setelah beberapa blog saya kena masalah yang cukup bikin mental turun: “Halaman tidak diindeks: Kesalahan pengalihan.”

Sudah nulis capek-capek. Sudah optimasi. Sudah riset keyword. Tapi artikel tidak diindeks Google. Rasanya seperti kerja keras tapi tidak dianggap. 

Dari situ saya mulai evaluasi. Bukan cuma dari sisi konten. Tapi dari sisi struktur dan template blogger yang saya pakai.

Dan di sinilah awal cerita kenapa akhirnya saya membuat Template Personal Flow.

Awal Masalah: Halaman Tidak Diindeks Karena Kesalahan Pengalihan

Masalah ini bukan sekali dua kali.

Beberapa blog saya mengalami error:

Halaman tidak diindeks: Kesalahan pengalihan.

Kalau kamu juga mengalami hal yang sama, saya pernah bahas detail cara mengatasinya di artikel Mengatasi Halaman Tidak Diindeks Karena Pengalihan.

Awalnya saya kira cuma masalah teknis biasa. Tapi setelah saya periksa:

  • Struktur link kurang rapi
  • Redirect tidak jelas
  • Terlalu banyak script tambahan
  • Template terlalu kompleks
  • Widget berlebihan

Saya mulai berpikir, jangan-jangan template blogger yang saya gunakan ikut menyumbang masalah.

Karena semakin banyak fitur dan script, semakin besar kemungkinan terjadi bentrok atau struktur yang tidak bersih.

Dan dari situ saya mulai menyadari sesuatu.

Saya Tidak Suka Tampilan Blog yang Terlalu Ramai

Saya orangnya simpel.

Saya tidak nyaman melihat blog yang terlalu penuh:

  • Banyak animasi
  • Banyak widget
  • Sidebar penuh
  • Banner di mana-mana
  • Fitur yang bahkan tidak pernah diklik

Memang kelihatan keren. Tapi nyaman belum tentu.

Buat saya, blog itu tempat membaca. Kalau tampilannya terlalu ramai, pembaca cepat lelah.

Dan jujur saja, saya sendiri juga jadi tidak fokus.

Alih-alih menulis konten, saya malah sibuk:

  • Mengatur layout
  • Mengubah warna
  • Menambah efek
  • Menghapus script
  • Tes responsif

Padahal tujuan utama bikin blog itu menulis.

“Kalau blog terlalu sibuk, yang capek bukan cuma pembaca, tapi juga pemiliknya.”

Fitur yang Sering Diakses Pengunjung Itu Sebenarnya Sedikit

Setelah saya perhatikan, fitur yang benar-benar sering diakses pengunjung itu hanya beberapa saja:

  • Navigasi
  • Konten artikel
  • Komentar
  • Kadang popular post
  • Kadang label
  • Halaman contact

Sosial media? Jujur, jarang diklik.

Yang lain? Kebanyakan hanya hiasan.

Tapi ironisnya, justru hiasan itu yang sering bikin template blogger jadi berat dan rumit.

Saya mulai berpikir:

Kalau memang yang penting cuma beberapa fitur, kenapa harus dipenuhi yang lain?

Blog dengan Fitur Banyak Bisa Bikin Malas Bikin Konten

Ini pengalaman pribadi banget.

Semakin banyak fitur, semakin saya fokus ke tampilan.

Saya jadi mikir:

  • Sidebar kurang panjang
  • Widget kurang lengkap
  • Featured post kurang menarik
  • Popular post perlu desain ulang

Akhirnya waktu habis untuk mempercantik blog, bukan memperkaya isi blog.

Padahal pembaca datang bukan untuk lihat slider. Mereka datang untuk cari solusi.

Di situ saya sadar:

Template blogger yang terlalu kompleks justru bisa menghambat konsistensi menulis.

Proses Membuat Template Personal Flow: 2 Tahun Penuh Proses

Banyak orang mungkin pikir saya bikin template ini cepat.

Padahal tidak.

Saya butuh waktu sekitar 2 tahun.

Kenapa lama?

Karena template ini lahir dari pengalaman, kegagalan, dan masalah yang saya alami sendiri.

Saya bukan orang yang jago coding.

Saya cuma sedikit paham:

  • HTML
  • CSS
  • JavaScript

Itu pun belajar otodidak. Cari sana-sini. Buka Google. Lihat forum. Nonton YouTube.

Saya pernah mencoba menghubungi pembuat template:

“Bisa tidak buatkan template sesuai yang saya mau?”

Tidak dibalas sampai sekarang.

Saya pernah pakai jasa. Hasilnya mengecewakan. Rasanya seperti jasa abal-abal.

Saya sempat berpikir:

“Sudahlah, bikin template blogger itu susah.”

Mencari Tutorial yang Tidak Lengkap

Saya cari tips di Google. Ketemu tutorial dari KompiAjaib.

Lumayan membantu. Tapi tidak lengkap.

Saya cari lagi di YouTube.

Cari lagi di blog lain.

Jawabannya hampir sama. Setengah-setengah. Tidak sampai tuntas.

Capek? Banget.

Sampai ada fase di mana saya benar-benar ingin berhenti.

Tapi rasa penasaran saya lebih besar.

Dan mungkin ini yang jadi titik balik.

Dari Tidak Bisa Jadi Bisa

Saya tidak langsung bisa.

Saya error berkali-kali.

Template rusak.

Layout hancur.

CSS bentrok.

Script tidak jalan.

Tapi dari situ saya belajar.

Gagal itu bukan lawan kita. Gagal itu guru yang tidak pernah bohong.

Dari yang awalnya tidak paham struktur template blogger, lama-lama saya mulai mengerti:

  • Bagaimana header bekerja
  • Bagaimana navigasi dipanggil
  • Bagaimana struktur konten dibaca
  • Bagaimana mengurangi script yang tidak perlu

Dan sedikit demi sedikit Template Personal Flow mulai terbentuk.

Konsep Template Blogger Personal Flow

Saya ingin template yang:

Sederhana.

Enak dilihat.

Enak dibaca.

Fokus ke konten.

Akhirnya saya buat struktur yang sangat simpel:

  • Header
  • Navigasi
  • Konten
  • Footer
  • Sosial media
  • Dark mode

Sudah.

Tidak ada:

  • Featured post
  • Popular post
  • Label
  • Slider
  • Widget berlebihan

Kenapa?

Karena saya ingin pembaca langsung fokus ke tulisan.

Kenapa Saya Menghapus Featured Post, Popular Post, dan Label?

Banyak orang bilang fitur itu penting.

Tapi saya berpikir logis.

Kalau internal link di dalam artikel sudah rapi, pembaca tetap bisa menjelajah tanpa harus melihat popular post besar di sidebar.

Kalau homepage sudah menampilkan daftar artikel terbaru, kenapa harus ada featured post besar lagi?

Label juga sering hanya jadi pajangan. Tidak banyak yang benar-benar klik.

Saya ingin template blogger yang minimalis, tapi tetap fungsional.

Fokus ke Kenyamanan Membaca

Saya lebih fokus ke:

  • Ukuran font yang nyaman
  • Spasi antar paragraf lega
  • Tidak terlalu banyak warna
  • Layout bersih
  • Navigasi jelas

Saya juga tetap menambahkan dark mode karena itu fitur yang benar-benar berguna, bukan sekadar hiasan.

Tujuan saya satu:

Membuat pengalaman membaca jadi lebih nyaman.

Template Blogger dan Pengaruhnya ke SEO

Saya tidak bilang semua masalah indeks karena template.

Tapi struktur template yang bersih membantu:

  • Mempermudah crawl Google
  • Mengurangi error redirect
  • Mempercepat loading
  • Mempermudah audit SEO

Dan sejak saya menggunakan template yang lebih sederhana, saya merasa struktur blog saya lebih rapi.

Lebih mudah diperiksa.

Lebih mudah dipahami.

Kenapa Saya Bertahan Sampai Jadi

Kalau dipikir-pikir, saya bisa saja menyerah di tahun pertama.

Tapi mungkin karena saya penasaran.

Dan saya percaya satu hal:

Kalau kita terus belajar, pasti ada hasilnya.

Saya bukan programmer.

Saya bukan developer profesional.

Saya cuma blogger yang tidak mau menyerah.

Dan sekarang template blogger yang saya pakai adalah hasil dari perjalanan itu.

Penutup: Template Blogger Itu Soal Arah, Bukan Gaya

Template Personal Flow bukan template sempurna.

Tapi itu template yang sesuai dengan saya.

Ia lahir dari:

  • Masalah tidak diindeks
  • Kekecewaan jasa
  • Tutorial yang tidak lengkap
  • Rasa capek
  • Rasa penasaran
  • Dan proses belajar panjang

Kalau kamu lihat template yang saya pakai sekarang, itulah hasilnya.

Sederhana. Bersih. Fokus.

Karena saya percaya:

Blog yang kuat bukan yang paling ramai tampilannya, tapi yang paling konsisten kontennya.

Kalau kamu juga sedang membangun blog dan merasa terlalu sibuk dengan tampilan, mungkin sudah waktunya evaluasi.

Coba tanya ke diri sendiri:

Apakah template blogger yang kamu pakai membantu kamu fokus menulis?

Atau malah bikin kamu sibuk dekorasi?

Kalau jawabannya yang kedua, mungkin kamu butuh sesuatu yang lebih simpel.

Karena pada akhirnya, yang bikin blog hidup bukan fitur.

Tapi isi dan konsistensi.

Dan kalau saya yang dulu tidak bisa coding saja bisa belajar, kamu juga pasti bisa.

Pelan-pelan saja. Yang penting terus jalan.